KITAB
Segala
puji bagi Allah yang telah melapangkan hati kaum muslimin dengan
hidayah-Nya, dan menutup hati orang-orang yang membangkang sehingga
tidak menyadari adanya hikmah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, karena Dia Tuhan Yang
Esa dan Berkuasa, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan
Rasulullah, yang tidak ada seorang pun yang menandingi kemuliaannya,
dirinya telah dimuliakan dan disucikan sejak hari kelahirannya serta
dilapangkan hatinya. Semoga berkah Allah selalu untuknya, keluarga dan
para sahabatnya sampai hari kiamat kelak.
Saatnya bagi saya untuk mulai mewujudkan apa yang telah menjadi niat saya, ketika menulis keterangan (syarah) kitab
Al Jami’ Ash-Shahih, sebagaimana telah saya tulis pada mukaddimah kitab
Hadyu As-Sari bi Fathil Bari.
Sebelumnya saya bermaksud untuk membedah hadits terlebih dahulu sebelum
memberikan keterangan, akan tetapi saya melihat kalau ini dilakukan
akan memerlukan waktu yang lebih panjang, maka dari itu saya mengambil
jalan tengah. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi
para pembaca, karena Allah tidak membebankan kepada makhluk-Nya kecuali
apa yang mampu dilakukannya. Mungkin dalam tulisan ini terjadi
pengulangan apa yang telah saya tulis dalam kitab
Hadyu As-Sari bi Fathil Bari.
Hal itu disebabkan jauhnya masa penulisan atau sebab-sebab lainnya,
akan tetapi saya berusaha untuk melakukan perubahan apa yang ada dalam
kitab tersebut. Maka saya namakan kitab ini
FATHUL BARI BI SYARHIL BUKHARI.
Saya memulai tulisan ini dengan menyebutkan sanad yang saya miliki kepada asalnya, baik dengan mendengar atau
ijazah,
karena saya mendengar sebagian ulama mengatakan, “Sanad adalah dasar
dari sebuah kitab,” maka dari itu saya akan menyebutkan sanad-sanadnya,
dan saya katakan, “Telah sampai kepada kami riwayat Bukhari dari Imam
Bukhari melalui jalur Thariq Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar
bin Shalih bin Bisyr Al Firabri yang meninggal pada tahun 320 H.” Beliau
mendengarkan riwayat ini dua kali.
Pertama, di Farbar pada tahun 248 H, dan
kedua, di Bukhara pada tahun 252 H.
Jalur yang lain adalah dari Ibrahim bin Ma’qil bin Hajjaj An-Nasafi,
seorang penghafal hadits yang memiliki beberapa karangan, dan wafat pada
tahun 294 H. Ia termasuk orang yang mengumpulkan catatan (hadits) yang
diriwayatkan dari Bukhari dengan cara
ijazah. Begitu juga dari jalur Hammad bin Syakir An-Nasawi, yang diperkirakan meninggal sekitar tahun 290-an.
Kemudian jalur dari Abu Thalhah Manshur bin Muhammad bin Ali bin
Qorinah Al Bazdawi, wafat pada tahun 329 H. Beliau adalah orang yang
terakhir menulis riwayat Bukhari dalam kitab shahihnya, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Makula dan lainnya. Setelah beliau meninggal masih
ada yang mendengarkan riwayat dari Bukhari, yaitu Al Qadhi Al Husain bin
Ismail Al Muhamili di Baghdad, akan tetapi beliau tidak memiliki kitab
shahih, dan beliau mendengar dari Imam Bukhari di Baghdad pada akhir
kunjungannya, sehingga sangat salah orang yang mengambil riwayat shahih
dari Al Muhamili.
Adapun riwayat Al Firabri, sampai kepada kami dari berbagai jalur di
antaranya, Al Hafizh Abu Ali Sa’id bin Utsman bin Sa’id bin As-Sakan,
Hafizh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al Mustamli, Abu Nashr Ahmad bin
Muhammad bin Ahmad Al Akhsikati, Al Faqih Abu Zaid Muhammad bin Ahmad Al
Maruzi, Abu Ali Muhammad bin Umar bin Sibawaih, Abu Ahmad Muhammad bin
Muhammad Al Jurjani, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasi, Abu Al
Haitsam Muhammad bin Makki Al Kasymihani, dan Abu Ali Ismail bin
Muhammad bin Ahmad bin
Hajib Al Kasyani. Beliau adalah orang terakhir yang meriwayatkan hadits Bukhari dari riwayat Al Firabri.
Adapun riwayat Ibnu As-Sakan diriwayatkan oleh Abdullah bin Muhammad bin Asad Al Juhani.
Riwayat Mustamli diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Dzarr Abdullah bin Ahmad Al
Harawi dan Abdurrahman bin Abdullah Al
Hamdani.
Riwayat Al Akhsikati diriwayatkan oleh Ismail bin Ishaq bin Ismail Ash- Shafar Az-Zahid.
Riwayat Abu Zaid diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Nu’aim Al
Ashbahani, Al Hafiz Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim Al Ushaili dan
Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad Al Qabisi.
Riwayat Abu Ali Sibawaih diriwayatkan oleh Sa’id bin Ahmad bin Muhammad Ash-Shairafi Al ‘Iyar dan Abdurrahman bin Abdullah Al
Hamdani.
Riwayat As-Sarkhasi diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Hasan Abdurrahman bin Muhammad bin Muzhaffar Ad-Dawudi.
Riwayat Kasymihani diriwayatkan oleh Abu Dzarr dan Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al
Hafshi dan Karimah binti Ahmad Al Marwaziyah.
Riwayat Al Kasyani diriwatkan oleh Abu Abbas Ja’far bin Muhammad Al Mustaghfiri.
Sedangkan riwayat Al Juhani dari Ibnu As-Sakan, ia berkata, “Telah
diceritakan kepada kami oleh Abu Ali Muhammad bin Ahmad bin Ali bin
Abdul Aziz dengan cara
musyafahah (secara lisan) dari Yahya bin
Muhammad bin Sa’ad dan yang lainnya, dari Ja’far bin Ali Al Hamdani,
dari Abdullah bin Abdurrahman Ad-Dibaji dari Abdullah bin Muhammad bin
Muhammad bin Ali Al Bahili, ia berkata, “Telah bercerita kepada kami Al
Hafizh Abu Ali Al Hasan bin Muhammad Al Jayyani dalam kitabnya
Taqyid Al Muhmal, ia berkata, “Telah menyampaikan kepada saya Al Qadhi Abu Umar Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Al
Hidza` tentang
Shahih Bukhari dengan
qira`ah (bacaan)ku kepadanya, dan Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Al Hafizh Abdul Bari dengan cara
ijazah. Keduanya berkata, “Telah bercerita kepada kami Abu Muhammad Al Juhani, beliau seorang yang
tsiqah (terpercaya) dan
dhabit (kuat) sanadnya.”
Riwayat Abu Dzarr dari ketiga gurunya, ia berkata, “Telah dibacakan
kepada Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al
Makki dengan riwayat ini. Aku mendengar dan mendapat ijazah apa yang
hilang darinya, ia berkata, “Telah me-ngabarkan kepada kami Imam Al
Maqam Abu Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Abu Bakar Ath-Thabari, telah
mengabarkan kepada kami Abu Qasim Abdurrahman bin Abu Harami Al Makki
dengan cara
sama’ (mendengar) seluruh riwayat darinya, kecuali
bab “Wa ila Madyana Akhahum Syu’aiba” (Saudara-saudara nabi Syu’aib
pergi ke Madyan) sampai bab “Mab’ats An-Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam” (Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), karena
bab tersebut diriwayatkan dengan cara
ijazah, telah mengabarkan
kepada kami Abu Hasan Ali bin Humaid bin ‘Ammar Ath-Tharabulusi, dan
telah mengabarkan kepada kami Abu Maktum Isa bin Al Hafizh Abu Dzarr
Abdullah bin Ahmad Al Harawi, dan telah mengabarkan kepada kami
bapakku.”
Adapun riwayat Abdurrahman Al Hamdani dari gurunya, ia berkata,
“Telah mengabarkan kepada kami (apa yang diriwayatkan Abdurrahman Al
Hamdani) Abu Hayyan Muhammad bin Hayyan bin Allamah Abu Hayyan secara
musyafahah (lisan) dari kakeknya (Abu Hayyan), dari Abu Ali bin Abu Al Ahwash, dari Abu Al Qasim bin Baqi (
Ibnu Taqi) dari Syuraih bin Ali (
Syuraih bin Muhammad bin Ali) bin Ahmad bin Sa’id dari Abdurrahman.”
Riwayat Ismail dengan sanad yang sama sampai kepada Abu
Hayyan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Yusuf Ath-Tha
hali dan Yusuf bin Ibrahim bin Abu Rai
hanah Al Malaqi dengan cara
ijazah dari keduanya, dari Al Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Anshari bin Al
Haitsam, telah mengabarkan kepada kami Al Qadhi Abu Sulaiman Daud bin
Hasan Al Khalidi darinya.”
Sedangkan riwayat Abu Nu’aim dari gurunya, ia berkata, “Telah
mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara
musyafahah dari Salman (Sulaiman) Ibnu Hamzah bin Abu Umar dari
Muhammad bin Abdul Hadi Al Maqdisi, dari Al Hafizh Abu Musa Muhammad bin
Abu Bakar Ad-Dumali (Al Madani), telah mengabarkan kepada kami Abu Ali
Al Hasan bin Ahmad bin Al
Hasan Al
Haddad, telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim.”
Riwayat Al Ushaili dan Al Qabisi dengan sanad terdahulu sampai kepada
Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Syakir Abdul
Wahid bin Muhammad bin Wahab dan lainnya dari Al Ashili dan
Hatim
bin Muhammad Ath-Tharabulusi dari Al Qabisi dengan sanad yang terdahulu
pula kepada Ja’far bin Ali. Ia menulis kepada Al Hafizh Abu Qasim
khalaf bin Basykawal, telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin
Muhammad bin Ghayyats dari
Hatim.”
Riwayat Sa’id Al ‘Iyyar, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali bin Muhammad Ad-Dimasyqi secara
musyafahah dari Muhammad bin Yusuf bin Al
Hattan
dari ‘Allamah Taqiyuddin Utsman bin Abdurrahman Asy-Syahruzuri, Manshur
bin Abdul Mun’im bin Abdullah bin Muhammad bin Fadhl dan Sa’id.”
Riwayat Ad-Dawudi, adalah riwayat terbaik bagi kami dari segi jumlah,
“Telah dikabarkan kepada kami riwayat Ad-Dawudi dari berbagai riwayat
diantaranya; Abdurrahim bin Abdul Karim bin Abdul Wahab Al
Hamawi,
Abu Ali Muhammad bin Muhammad bin Ali Al Jiyazi, Abu Ishaq Ibrahim bin
Ahmad bin Ali bin Abdul Wahab bin Abdul Mukmin At-Ta’ali, dan Abu
Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad Al Jauzi.”
Muhammad Abdurrahim dan Abu Ali berkata, “Telah mengabarkan kepada
kami Abu Abbas Ahmad bin Abu Thalib bin Abu An-Ni’am Ni’mah bin
Hasan bin Ali bin Bayan Ash-Shali
hi dan Wazirah binti Muhammad bin Umar bin As’ad bin Al Manja At-Tanwakhiah.”
Abu Ishaq berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Thalib bin Ni’mah.”
Ali berkata, “Dia telah membaca kepada Wazirah dan aku mendengarnya.
Telah menulis kepadaku Sulaiman bin Hamzah bin Abu Umar, Isa bin
Abdurrahman bin Ma’ali dan Abu Bakar bin Ahmad bin Abd. Da`im. Mereka
berlima berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al
Husain bin Mubarak bin Muhammad bin Yahya Az-Zubaidi dengan cara mendengar (sama’).”
Mereka berkata, “Selain Wazirah, telah menulis kepada kami Abu Hasan
Muhammad bin Ahmad bin Umar Al Qathi’i dan Abu Hasan Ali bin Abu Bakar
Ruzabeh Al Qalanisi, Sulaiman, Muhammad bin Zuhair Sya’ranah, Tsabit bin
Muhammad Al Khajnadi.” Muhammad bin Abdul Wa
hid Al Madini menambahkan, “Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Waqt Abdul Awwal bin Isa bin Syu’aib Al Harawi darinya.”
Riwayat Al
Hafshi
dengan isnad terdahulu sampai kepada Manshur, “Telah mengabarkan kepada
kami Abu Bakar Wajih bin Thahir, Abdul Wahab bin Syah Asy-Syadzayakhi
dengan cara
sama’ (mendengar), dan kakek Abu Muhammad bin Al Fadhl Ash-Sha’idi dengan cara
ijazah. Mereka berkata, “Al Hafshi telah mengabarkan kepadaku.”
Riwayat Karimah, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami dengan
riwayat Karimah, Al Hafizh Abu Al Fadhl Abdurrahim bin Husain Al ‘Iraqi
dengan cara
sama’ sebagian riwayat dan
ijazah sebagian
yang lain, dan Abu Ali Abdurrahim bin Abdullah Al Anshari, Al Mu’in
Ahmad bin Ali bin Yusuf Ad-Dimasyqi, Ismail bin Muhammad Al Qawy bin
‘Izzun dan Utsman bin Abdurrahman bin Tasyiq dengan cara
sama’
selain beberapa bab, diantaranya bab “Musafir idza Jadda bi As-Sairu”
sampai akhir pembahasan haji, dari bab “Ma yajuzu min Asy-Syuruth fi Al
Makatib” sampai dengan bab “Asy-Syuruth fi Al Kitabah”, dari bab
“Ghazwu Al Mar`ah fi Al Ba
hr” dalam pembahasan ‘
Jihad’ sampai dengan bab “Du’a An-Nabi saw Ila Al Islam” dengan cara
ijazah dari
mereka, dan dari Al Hafizh Rasyiduddin Abu Husain Yahya bin Ali Al
Aththar dengan seluruh riwayatnya, mereka berkata, “Telah mengabarkan
kepadaku Abu Qasim Hibatullah bin Ali bin Mas’ud Al Bushiri, telah
mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Barakat An-Nahwi
As-Sa’di darinya.”
Riwayat Mustaghfiri dengan memakai isnad terdahulu sampai kepada Abu
Musa, “Telah mengabarkan kepadaku bapakku, dan Hasan bin Ahmad darinya.”
Riwayat Ibrahim bin Ma’qil, dengan mengunakan isnad sampai kepada Abu Ali Al Jayyani, “Telah mengabarkan kepada kami
Hakam bin Muhammad bin Abu Fadhl Isa bin Abu Imran Al
Harawi dengan cara
sama’ sebagian riwayat dan
ijazah sisanya, Abu Shali
h Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al Bukhari darinya.”
Riwayat
Hammad bin
Syakir, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar
bin Abdul Hamid dalam kitabnya dari Abu Rabi’ bin Abu Thahir bin Qudamah
dari Hasan bin Sayyid ‘Alawi, dari Abu Fadhl bin Nashir Al Hafizh dari
Ahmad bin Muhammad bin Rumaih An-Nasawi darinya.
Riwayat Abu Thalhah Al Bazdawi dengan sanad sampai kepada Al
Mustaghfiri, “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdul Aziz
darinya.”
Telah selesai apa yang saya tulis dari wasilah yang saya maksudkan.
Sebagian riwayat yang paling kuat menurut saya adalah riwayat Abu Dzarr
dari ketiga gurunya, karena ia adalah perawi yang
dhabith dan
membedakan riwayat yang berbeda sesuai dengan konteks masing-masing.
Hanya kepada Allah aku memohon taufik, agar aku selalu berjalan pada
jalan yang benar.
Penulis
apa ada diskon,....?